Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Subhanallaah . . Wanita ini masuk Islam karena "Pakaian Dalam"

dakwatuna.com - Mungkin kedengaran aneh dan janggal. Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar dapat hidayahnya seorang non muslim ke dalam Islam di sebabkan hal-hal luar biasa dan penting. Seperti dokter Miller seorang penginjil Kanada yang memeluk Islam setelah menjumpai I’jaz Qur’an dari berbagai segi. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Ya, memeluk Islam gara-gara pakaian dalam!
Fakta ini dikisahkan Doktor Sholeh Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris. Ada seorang perempuan tua yang biasa mencuci pakaian para mahasiswa Inggris termasuk pakaian dalam mereka.
Tidak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usianya yang sudah terbilang uzur. Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka. Namun di tengah kondisi seperti itu sepertinya tidak membuat kecil hati tokoh kita ini yang justru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan cucian kotor.
Wanita baya itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai petugas laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada instansi yang bersedia mempekerjakan para manula.
“Aku merasa dihargai meski sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diri sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,” ujarnya
“Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik daripada harus tinggal diam di panti jompo.” Ujarnya lagi dengan wajah sendu.
“Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti seorang temanku. Dia juga dulu bekerja sebagai petugas laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” bibi berkisah.
Bagi sang Bibi profesinya sebagai petugas laundry justru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang, liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing sekadar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, cafĂ©, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.
Dan salah satu sisi negatif pergaulan dengan orang Inggris adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasalah mereka sampai benar-benar mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah merata di sebarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya. Inilah perbuatan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh manusia sejak terciptanya minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, tetapi juga si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).
Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggallah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur. Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dilakukan dengan penuh dedikasi tinggi walau di ujung usianya yang semakin menua.
Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa terus bergelut dengan ‘dunia kotor’nya. Idealnya di penghujung usianya itu seharusnya masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Namun situasilah yang menyebabkan dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.
Entah sampai kapan dia harus melakoni pekerjaan itu. Maka sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.
Bagi kebanyakan pelajar timur tengah sangat langka memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung kelompok kecil siswa, pasangan atau keluarga. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengizinkan rumah-rumah mereka dikelola dan disewakan.
Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan yang langgeng. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama. Kesadaran inilah yang menepis kekhawatiran akan terjadinya gegar budaya atau “cultural shock“.
Hidup dalam komunitas non muslimlah justru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim di mana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan kita sebagai muslim yaitu kesalehan.
Hari-hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusnya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi. Namun saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim Arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh dan tidak banyak noda di pakaiannya.
Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau.
Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, ”Kami selalu istinja setiap kali kencing.” Pencuci baju ini bertanya lagi, ”Apakah itu diajarkan dalam agamamu?”
“Ya!” Jawab dua orang pelajar muslim tadi.
Merasa belum yakin 100 persen dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang menemui salah seorang tokoh muslim yaitu Doktor Sholeh– Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris– Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama bertugas perihal adanya pakaian dalam yang ‘aneh’.
Ada beberapa pakaian dalam yang tidak berbau seperti kebanyakan mahasiswa umumnya, apa sebabnya? Maka ustadz ini menceritakan karena pemiliknya adalah muslim, agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini.
Betapa terkesan ibu tua ini jika untuk hal yang kecil saja Islam memperhatikan apatah lagi untuk hal yang besar, pikir pencuci baju itu. Dan tidak lama kemudian ia mengikrarkan syahadat, memeluk Islam dengan perantaraan pakaian dalam!
Tidak disangka ternyata diam-diam si tukang cuci memeluk Islam, gemparlah para mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut, yang kebanyakan adalah non muslim. Mereka berusaha ingin tahu sebab musabab si Bibi memeluk Islam. Dia menjawab dengan yakin bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslim Arab ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Dan dengan hidayah Allah Swt, dirinya dapat membedakan antara pakaian seorang muslim dan non muslim.
Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar dapat hidayahnya seorang non muslim ke dalam Islam lebih disebabkan pada hal-hal luar biasa dan penting. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Mendapat hidayah di penghujung usia gara-gara pakaian dalam! Sungguh takdir Allah benar-benar telah jatuh berketepatan dengan kegigihannya selama ini mengisi hari-hari di sisa hidupnya sebagai petugas laundry. Di sinilah letak rahasia nikmat Allah yang agung yang mempertemukan antara takdirNya dan ikhtiar manusia. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal seorang hambaNya.
(Majalah Al-Qawwam edisi 15, dzul qa’dah 1427 H Badiah, Riyadh / jurnalhajiumroh.com)

Senin, 01 April 2013

Negeri yang Dijanjikan

Negeri yang Dijanjikan ( repost )
   Oleh : M Fuad Nasar



Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW berkata kepada 'Adiy bin Hatim at Thaiy, ''Wahai Adiy, jika umurmu panjang, kamu akan menyaksikan kaum wanita berangkat seorang diri berkendaraan dari Hirah (Iran) menuju Ka'bah (Makkah) dengan aman, tidak suatu yang ditakutinya, kecuali Allah semata. Dan sesungguhnya kalau umurmu panjang, kamu akan ikut membuka perbendaharaan harta kekayaan Maharaja Persia (dengan membawa keadilan). Dan sesungguhnya jika umurmu panjang, kamu akan melihat orang yang membawa uang emas atau perak sepenuh-penuh tangannya mencari orang-orang miskin yang akan menerimanya, tetapi tidak seorang pun fakir miskin dijumpainya yang berhak menerimanya (karena seluruh rakyat sudah hidup makmur).'' (HR Bukhari).

Dalam hadis di atas Rasulullah mengajak pemuda Adiy membayangkan, dalam waktu yang tidak lama umat Islam akan hidup dalam sebuah negara yang aman, adil, dan makmur di bawah naungan ridho Ilahi. Dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya Musykilatul Faqri Wa Kaifa 'Alajahal Islam menceritakan, segala nubuwat itu sudah disaksikan Adiy di masa hidupnya. Kekuasaan Raja Persia sudah dihabiskan dengan jatuhnya Ktesiphon dalam perang Qadisiyah. Adiy ikut memasuki kota itu dan menyaksikan langsung mahkota kebanggaan Maharaja Persia diboyong ke Madinah. Begitu pula tentang jaminan keamanan, Adiy menyaksikan wanita-wanita dari Iran berkendaraan lancar ke Makkah dalam perjalanan menempuh jarak ribuan kilometer tanpa suatu gangguan.

Negeri yang dijanjikan itu terwujud secara paripurna di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H). Menurut riwayat Baihaqi, Khalifah Umar memerintah hanya 30 bulan. Tapi, setiap rakyatnya tidaklah meninggal dunia melainkan meninggalkan uang yang banyak, dan mereka meninggalkan wasiat supaya hartanya dibagikan kepada fakir miskin. Tetapi, tidak seorang pun di dalam negara itu ada orang yang hidup miskin. Khalifah Umar betul-betul sudah memakmurkan rakyat secara merata.

Negeri yang dijanjikan itu pasti akan terjadi di setiap zaman, jika syarat-syaratnya dipenuhi. Menurut Alquran, tidak dibutuhkan syarat yang banyak, melainkan tersimpul dalam ungkapan kata iman dan takwa. ''Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, maka pastilah Kami membukakan bagi mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, (bila) mereka durhaka, maka Kami siksa mereka disebabkan usaha mereka sendiri.'' (Al-A'raf: 96).

Pada ayat lain Allah berfirman, ''Dan Tuhan memberikan contoh perbandingan adanya negara yang aman tenteram, yang rezekinya berlimpah dari tiap-tiap tempat, kemudian penduduk negeri itu kufur akan nikmat Allah, maka Allah merasakan kelaparan dan ketakutan disebabkan perbuatan mereka sendiri.'' (An-Nahl: 112)

Dalam surat Saba ayat 15-20, diceritakan sebuah negara bernama Saba'. Mulanya rakyat di negeri itu hidup senang dan makmur menikmati karunia Allah. Tapi, karena mereka mendurhakai Tuhan dan berbuat aniaya di antara sesamanya, maka dalam sekejap kemakmuran itu berganti dengan kesengsaraan. Tragedi negeri Saba' hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua.



republika

Kamis, 28 Maret 2013

Di Sisinya Selalu Ada Cinta


Di Sisinya Selalu Ada Cinta
Author: Abu Aufa

Pagi yang cerah selalu membuatku bergairah menapakkan
kaki di aspal hitam yang masih tampak basah. Merentas
jeruji cahaya mentari yang masih malu menembus
putihnya awan, bertemankan canda mesra kupu-kupu
beraneka warna dan bunga-bunga yang merekah. Megahnya
simfoni alam yang melantunkan senandung tasbih dan
tahmid dari tetesan sisa-sisa embun di tanah, seakan
menambah pesona pagi yang indah.

Di jalanan juga tampak banyak orang yang dengan penuh
semangat berolah raga. Ada yang hanya berjalan santai
menghirup udara segar, ada pula yang berlari-lari
kecil dan tak sedikit yang terlihat menuntun anjingnya
yang bergerak lincah kesana kemari. Wajah-wajah mereka
terlihat segar dielus lembut sinar mentari pagi,
padahal beberapa di antaranya tampak tidak lagi
berusia muda, terlihat dari guratan-guratan keriput di
wajah.

Tampak dari kejauhan dua sosok manusia berjalan ke
arahku, "Selalu mereka," aku bergumam dalam hati.
Semakin dekat, semakin terdengar nafas yang
terengah-engah dan terlihat simbahan peluh yang
mengucur membasahi sekujur tubuh mereka.

"Ohayou gozaimasu," sapa obachan itu ramah seraya
sedikit membungkukkan tubuhnya.

Di sampingnya, anak lelaki yang berkepala besar dan
berperawakan pendek itu juga terdengar menyapa, namun
dengan suara tak jelas. Terlihat dari raut wajahnya ia
berbeda dengan anak yang umurnya sebaya. Wajah itu
berhiaskan mata yang sipit dan turun, dagu yang kecil
membuat lidah terlihat menonjol keluar serta lebar
tengkorak tampak pendek di kepalanya yang dicukur
botak.

Sekali-kali tangan lebar dengan jari-jari pendek itu
susah payah menyeka wajahnya dengan handuk kecil,
tampak koordinasi gerakan tangannya lemah sekali. Tak
jarang obachan di sebelahnya ikut membantu, dihapusnya
cucuran keringat anak lelaki itu dengan kasih sayang,
penuh selaksa cinta yang terpancar jelas dari binar
matanya. Seketika, mata anak lelaki yang sering
menatap kosong itu pun terlihat senang.

"Kono ko wa uchi no musuko desu," katanya terdengar
jelas dan bangga, seakan tahu pertanyaan yang
menyergap di benakku.

Aku hanya tersenyum, menganggukkan kepala dan tak
berkata apa-apa. Seiring langkah mereka yang semakin
menjauh, kutatap kepergian obachan dan anak lelaki
yang berjalan goyah itu dengan perasaan berkecamuk
menjadi satu. Pikiranku lalu menerawang, menembus
lorong ruang dan waktu. Melayang, meninggalkan sosok
tubuhku yang masih berdiri tak bergeming, takjub
dengan sebuah keajaiban cinta.

Cinta seorang ibunda kepada anak-anaknya memang
membuat kita selalu terpesona. Jikalau kasih seorang
anak adalah sepanjang galah, kasih ibunda tentu
sepanjang jalan. Bahkan andaikan kasih anak itu
sepanjang jalan, maka kasih ibunda adalah sepanjang
masa.

Obachan itu pasti tak pernah tahu bahwa ada surga di
telapak kakinya, sehingga ia merasa perlakuannya
biasa-biasa saja. Namun bagiku, ia adalah seorang
wanita istimewa yang di sisinya selalu ada cinta,
karena amanah berupa seorang anak yang cacat mental
hanya dianugerahkan kepada wanita-wanita istimewa.

ALLAHua'lam bi shawab.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,

Abu Aufa

Catatan:
- Ohayou gozaimasu: selamat pagi
- Obachan: wanita berumur, setengah tua
- Kono ko wa uchi no musuko desu: dia adalah anak
laki-laki saya

Senin, 25 Maret 2013

Keajaiban Shadaqah: 19 Tahun Dikubur Jasad Triyani Masih Utuh

16-02-2013 08:43:48, pada Informasi untuk masyarakat

Keajaiban Shadaqah: 19 Tahun Dikubur Jasad Triyani Masih Utuh  INFAQ DAKWAH CLUB –Warga Ciomas Bogor dihebohkan dengan utuhnya Triyani binti Kartomulyo, seorang wanita ahli shadaqah yang sudah 19 tahun dikubur. Jasad dan kain kafannya masih utuh tanpa menyebarkan bau busuk, padahal papan kayu penutup makam sudah hancur menjadi tanah.  Keajaiban itu terungkap saat penggalian makam almarhumah di TPU Kampung Bubulak RT 1/Rw 09, Desa Laladon, Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, pada Kamis pagi (14/2/2013).  Pembongkaran makam Triyani itu dilakukan anak-anak almarhumah untuk memindahkan jasad almarhumah ke Purwodadi, Jawa Tengah, disandingkan di samping makam suami almarhumah.  “Kami akan bawa jenazah ibu ke Jawa Tengah untuk dimakamkan dekat makam bapak,” kata Nanang Triyadi, anak sulung almarhumah.  Pemindahan itu sendiri dilatari oleh keadaan kompleks makam Triyani yang makin rusak tergerus air sungai Ciapus. Sebelumnya, beberapa makam sudah hanyut dan rusak.  “Rencananya memang mau dipindahkan daripada makamnya rusak,” kata Nanang Arianto (49), anak sulung almarhumah. “Kalau airnya meluap, bisa-bisa jenazahnya hanyut. Makanya sebelum makam ibu saya ikut ambrol, kita sepakat pindahin ke Purwodadi,” tambahnya.  Usai digali, jenazah Triyani disemayamkan di rumah Teguh, anak keduanya, di Perum Taman Pagelaran, Jl. Cemara Blok D 3 no 29, Kelurahan Padasuka Ciomas Bogor. Spontan, rumah Teguh pun kebanjiran tamu yang ingin berkunjung dan melihat keajaiban itu dari dekat.  Di rumah ini, jenazah yang meninggal pada 20 Juni 1994 ini dibaringkan di atas tikar plastik. Tampak kain kafannya masih utuh membungkus jasad almarhumah, meski warnanya telah memudar dan bercampur tanah. Yang membuat warga takjub, pada jasad almarhumah masih menempel daging dan kulit, walau terlihat mengecil. Warga semakin heran, karena jasad ini tidak mengeluarkan bau menyengat. AHLI SHADAQAH  Utuhnya jasad Triyani ini mengingatkan pada keajaiban makam orang-orang shalih. Beberapa tahun lalu, pada Ahad (2/8/2009), hal serupa terjadi di Tangerang. Jenazah KH Abdullah Mukmin yang dimakamkan di area mushalla An-Najat di Jl Benda, Kota Tangerang, masih utuh meski telah 26 tahun berkalang tanah. Makam ulama yang  pernah menuntut ilmu selama 7 tahun di Darul Ulum Mekkah, Arab Saudi ini dibongkar karena rencana pelebaran jalan.  Di Tangerang, keshalihan ulama yang sangat tegas ini tidak perlu dipertanyakan. Selain mengajarkan ilmu agama, Kiai Abdullah juga mengajarkan kewirausahaan kepada para muridnya, antara lain cara bercocok tanam. (baca: KH. Abdullah Mukmin: Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh)  Keshalihan Triyani semasa hidupnya adalah suka bersedekah. Almarhumah dikenal sebagai wanita dermawan, meski hanya berprofesi sebagai seorang pedagang makanan. Ia selalu memberi bantuan bagi warga atau pengemis dan gelandangan yang kelaparan yang mampir ke warungnya.  “Saya tidak tahu fenomena apa dengan kejadian ini. Tapi, mungkin karena amal baik ibu semasa hidupnya,” jelas Teguh. “Ibu saya dulu berjualan sayuran matang. Ibu dermawan dan suka membagikan dagangannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Pengemis dan gelandangan, sering dikasih makan kalau lewat depan warung," tambahnya. [azka izzatillah/pkt, dtk]  Sumber:Voa-islam.com  LIKE/SHARE agar kebaikan terus menyebar ------------------------------------------------- Yuk gabung juga di @[183796724736:274:Tanahabangasia]
Keajaiban Shadaqah: 19 Tahun Dikubur Jasad Triyani Masih Utuh

INFAQ DAKWAH CLUB –Warga Ciomas Bogor dihebohkan dengan utuhnya Triyani binti Kartomulyo, seorang wanita ahli shadaqah yang sudah 19 tahun dikubur. Jasad dan kain kafannya masih utuh tanpa menyebarkan bau busuk, padahal papan kayu penutup makam sudah hancur menjadi tanah.

Keajaiban itu terungkap saat penggalian makam almarhumah di TPU Kampung Bubulak RT 1/Rw 09, Desa Laladon, Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, pada Kamis pagi (14/2/2013).

Pembongkaran makam Triyani itu dilakukan anak-anak almarhumah untuk memindahkan jasad almarhumah ke Purwodadi, Jawa Tengah, disandingkan di samping makam suami almarhumah.

“Kami akan bawa jenazah ibu ke Jawa Tengah untuk dimakamkan dekat makam bapak,” kata Nanang Triyadi, anak sulung almarhumah.

Pemindahan itu sendiri dilatari oleh keadaan kompleks makam Triyani yang makin rusak tergerus air sungai Ciapus. Sebelumnya, beberapa makam sudah hanyut dan rusak.

“Rencananya memang mau dipindahkan daripada makamnya rusak,” kata Nanang Arianto (49), anak sulung almarhumah. “Kalau airnya meluap, bisa-bisa jenazahnya hanyut. Makanya sebelum makam ibu saya ikut ambrol, kita sepakat pindahin ke Purwodadi,” tambahnya.

Usai digali, jenazah Triyani disemayamkan di rumah Teguh, anak keduanya, di Perum Taman Pagelaran, Jl. Cemara Blok D 3 no 29, Kelurahan Padasuka Ciomas Bogor. Spontan, rumah Teguh pun kebanjiran tamu yang ingin berkunjung dan melihat keajaiban itu dari dekat.

Di rumah ini, jenazah yang meninggal pada 20 Juni 1994 ini dibaringkan di atas tikar plastik. Tampak kain kafannya masih utuh membungkus jasad almarhumah, meski warnanya telah memudar dan bercampur tanah. Yang membuat warga takjub, pada jasad almarhumah masih menempel daging dan kulit, walau terlihat mengecil. Warga semakin heran, karena jasad ini tidak mengeluarkan bau menyengat.
AHLI SHADAQAH

Utuhnya jasad Triyani ini mengingatkan pada keajaiban makam orang-orang shalih. Beberapa tahun lalu, pada Ahad (2/8/2009), hal serupa terjadi di Tangerang. Jenazah KH Abdullah Mukmin yang dimakamkan di area mushalla An-Najat di Jl Benda, Kota Tangerang, masih utuh meski telah 26 tahun berkalang tanah. Makam ulama yang pernah menuntut ilmu selama 7 tahun di Darul Ulum Mekkah, Arab Saudi ini dibongkar karena rencana pelebaran jalan.

Di Tangerang, keshalihan ulama yang sangat tegas ini tidak perlu dipertanyakan. Selain mengajarkan ilmu agama, Kiai Abdullah juga mengajarkan kewirausahaan kepada para muridnya, antara lain cara bercocok tanam. (baca: KH. Abdullah Mukmin: Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh)

Keshalihan Triyani semasa hidupnya adalah suka bersedekah. Almarhumah dikenal sebagai wanita dermawan, meski hanya berprofesi sebagai seorang pedagang makanan. Ia selalu memberi bantuan bagi warga atau pengemis dan gelandangan yang kelaparan yang mampir ke warungnya.

“Saya tidak tahu fenomena apa dengan kejadian ini. Tapi, mungkin karena amal baik ibu semasa hidupnya,” jelas Teguh. “Ibu saya dulu berjualan sayuran matang. Ibu dermawan dan suka membagikan dagangannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Pengemis dan gelandangan, sering dikasih makan kalau lewat depan warung," tambahnya. [azka izzatillah/pkt, dtk]

Sumber:Voa-islam.com

Jumat, 22 Maret 2013

KEKUATAN SEBUAH DOA (repost)

Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal,
masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat
terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon
agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa
suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak
bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat
membutuhkan makan.
 
John Longhouse, si pemilik supermarket, mengusir dia
keluar. Sambil terus menggambarkan situasi
keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang
keluarganya. 
"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar
setelah aku punya uang." John Longhouse tetap tidak
mengabulkan permohonan tersebut. " Anda tidak
mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,"
alasannya. Di dekat counter pembayaran, ada seorang
pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan
tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akan
bayar semua yang diperlukan Ibu ini." Karena malu, si
pemilik toko
akhirnya mengatakan, " Tidak perlu, Pak. Saya sendiri
akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu
membawa daftar belanja?" " Ya, Pak. Ini," katanya
sambil menunjukkan sesobek kertas kumal. " Letakkanlah
daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan
memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat
timbangan tersebut." Dengan sangat ragu-ragu dan
setengah putus asa, Louise menundukkan kepala
sebentar,
menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu
dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam
timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat
jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap
Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil
berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku
lihat." Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.
Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang
diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati
tadi, si
Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi
timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung
berimbang, sehingga si ibu terus mengambil
barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus
menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi. Si
Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat
berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, Si pemilik toko
diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si
Ibu kumal tadi. 
Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu
tertulis sebuah doa pendek:
"Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba
menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu." Si Pemilik
Toko terdiam. Si Ibu, Louise, berterimakasih
kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan
gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan
selembar uang 50
dollar kepadanya.
 
 
Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa
timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.
Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah
doa.
 
KEKUATAN SEBUAH DOA
Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah
sebuah doa. Hanya itu saja. berhentilah sejenak dari pekerjaanmu . Lalu, kirimkan
tulisan ini kepada setiap orang atau sahabat yang kau
kenal. Biarlah jaringan ini tidak terputus, karena
 
DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA
TERIMA.
 
Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.

Sabtu, 16 Maret 2013

FAKTA UNIK MENGENAI ADZAN ( Repost )

Setiap hari suara adzan selalu berkumandang, terlebih bagi negara yang mayoritas umatnya beragama islam. Apabila telah dikumandangkan, wajib hukumnya umat muslim di dunia untuk melaksanakan sholat. Dibalik merdunya suara Adzan yang berkumandang, ada keistimewaan tersendiri dari adzan, sehingga bagi muadzin (orang yang menyerukan azan) sekalipun, Allah telah menjanjikan pahala kepadanya. Di balik keistimewaannya, adzan juga menyimpan fakta unik.

adzan

1. Kalimat penyeru yang mengandung kekuatan dahsyat
Begitu adzan berkumandang, kaum muslim yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah akan segera bergegas ke masjid menunaikan salat. Tanpa sadar syaraf akan memerintahkan tubuh untuk segera menunaikan salat.
Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak umat muslim mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi). Seakan suara khas adzan telah tertanam dalam alam bawah sadar setiap muslim. Sehingga ketika mendengarnya, indra-indra tubuh mereka lalu bergerak untuk salat. Suara adzan seakan telah menyentuh fitrahnya untuk beribadah.

2. Banyak non-muslim yang menjemput hidayah setelah mendengar adzan
Banyak kisah perjalanan hidup kaum mualaf hingga akhirnya menemukan hidayah yang seringkali menyentuh nurani. Berbagai sebab mereka akhirnya masuk Islam. Salah satu sebab yang sering terjadi adalah suara adzan yang didengar mereka, telah menggetarkan hari dan kesadaran terdalam untuk mengucap syahadat. Seakan fitrah Islam dalam diri mereka terbangkitkan melalui alunan adzan itu.
Kementerian Urusan Agama Turki pernah melansir sedikitnya 634 orang telah masuk Islam selama tahun 2011, termasuk 467 wanita, yang berusia rata-rata 30 sampai 35 tahun, dan berasal dari kebangsaan yang berbeda mulai dari Jerman, Maldiva, Belanda, Perancis, Cina, Brasil, AS, Rumania dan Estonia. Mereka adalah turis-turis yang tengah melancong ke Turki.
Di kota Kayseri Turki sendiri, sedikitnya 14 orang telah masuk islam selama empat tahun terakhir, termasuk 10 wanita. Grand Mufti kota Kayseri, Syaikh Ali Marasyalijil menyebutkan umumnya mereka masuk Islam setelah tersentuh mendengar alunan adzan.
Rapper papan atas Amerika Serikat, Chauncey L Hawkins yang populer disapa Loon bahkan mengakui masuk Islam setelah mendengar suara adzan saat dirinya tengah berkunjung ke Abu Dhabi, Dubai.
Masih banyak lagi kisah menyentuh mualaf yang masuk Islam setelah mendengar alunan kumandang adzan.

3. Perintah adzan datang melalui mimpi
Pada awalnya Rasulullah SAW tidak tahu dengan cara yang digunakan untuk mengingatkan umat muslim bila waktu salat tiba. Ada sahabat yang menyampaikan usul untuk mengibarkan bendera, menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan membunyikan lonceng. Semua saran itu dianggap kurang cocok.
Hingga datanglah sahabat, Abdullah bin Zaid yang bercerita jika dia mimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan seperti saat ini. Lalu dikabarkanlah perihal mimpi ini kepada Rasulullah. Umar bin Khathab mendengar hal itu dan ternyata dia juga mengalami mimpi yang sama. ”Demi Tuhan yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi)”. Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.”
Rasulullah menyetujui untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu sebagai tanda waktu salat tiba.

4. Dikumandangkan saat peristiwa-peristiwa bersejarah
Selain digunakan untuk menandakan waktu salat tiba, adzan juga dikumandangkan pada momen-memen penting dan bersejarah. Misalnya ketika seorang bayi lahir. Selain itu, saat peristiwa penting dalam Islam terjadi, adzan juga berkumandang. Ketika pasukan Rasulullah berhasil menguasai Makkah dan berhala-berhala di sekitar ka’bah dihancurkan, Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan dari atas Ka’bah.
Peristiwa lain, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman yang mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur, beberapa perajurit Ottoman masuk ke dalam lalu mengumandangkan adzan sebagai tanda kemenangan mereka.

5. Miliaran kali dikumandangkan sejak 14 abad lalu
Adzan dikumandangkan 5 kali sehari. Semenjak adzan pertama kali dikumandangkan 14 abad lalu hingga saat ini, tak dapat dihitung berapa juta kali adzan telah berkumandang.
Anggaplah setahun 356 hari. Jika 14 abad adalah 1400 tahun, maka 1400 tahun x 356 hari = 511000 hari. Dalam satu hari, adzan 5x dikumandangkan. Sehingga sedikitnya adzan telah dikumandangkan 2.555.000 kali. Jika dalam satu hari ada 1 juta muslim di dunia yang mengumandangkan adzan, jadi adzan telah dikumandangkan sebanyak 2.555.000.000.000 kali. Subhanallah!

6. Tak henti dikumandangkan hingga kiamat
Bumi berbentuk bulat. Ini menyebabkan terjadi perbedaan waktu solat pada setiap daerah. Ketika adzan telah selesai berkumandang di satu daerah, maka selanjutnya adzan berkumandang di daerah lain.
Satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula Sumatera. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.
Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.
Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.
Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.
Sebelum adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul.
Begitu seterusnya adzan terus berkumandang di bumi dan tidak pernah berhenti hingga kiamat terjadi. Subahanallah.
Sumber: Fakta Unik Mengenai Adzan

Jumat, 08 Maret 2013

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat

Repost : Written By Admin BeDa on Sabtu, 16 Februari 2013 | 13.00


Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan vespanya. Alhamdulillah... vespa itu bisa distarter.

“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin kudu muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Ke mana arah vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uan g segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syetan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis.

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syetan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya.
“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.
“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.
“Untung apaan?”
“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum”
“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya Cuma punya vespa”
“Hmm.. mau, anak ditukar Kijang?”
Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).

[Kisah Nyata Keajaiban Sedekah ini disarikan dari Buku “Kun Fayakun 2” karya Ust. Yusuf Mansur]

Hidup Bocah Polos Zhang Da Menginspirasi Banyak Orang

 
 Hidup Bocah Polos Zhang Da Menginspirasi Banyak Orang

Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.

Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.

Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.

Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.

Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan. Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.

Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda.

Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. "Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab," katanya.

Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus. Pembawa acara menanyainya lagi. "Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" papar pembawa acara.

Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. "Sebut saja!" katanya menegaskan.

Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da. "Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!" kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.

Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai.

Pelajaran moral yang tampak sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?

Klik "Share" jika setuju

Kamis, 07 Maret 2013

10 Anak Hafal Qur’an

Sudah sedemikian sering kita mendengar hal negatif dari anggota DPR, mulai dari korupsi sampai adegan mesum. Wakil rakyat yang seharusnya menjadi contoh bagi rakyat, yang terjadi, jangankan menjadi teladan yang ada justru rakyat seringkali dibuat sakit hati dengan perbuatan para wakil rakyat.
Namun sosok Pasangan Mutammimul Ula dan Dra Wirianingsih, Bc HK seolah seperti oase dipadang pasir, keduanya adalah suami istri anggota DPR dari PKS, sosoknya dapat dijadikan sebagai teladan dalam membangun keluarga kita. Mutammimul Ula mampu mengatur dan membina keluarganya dengan baik, kalau dikeluarganya berhasil tentu saja bisa menjadi tolak ukur komitmennya untuk membangun dan membela rakyat. Pertanyaannya sederhananya, jika keluarganya saja tidak terurus bagaimana mungkin bisa mengurus rakyat? Mutammimul Ula di karunia 11 orang anak yang semuanya mengukir prestasi menjadi penghafal Al Qur’an di usia muda

1. Afzalurahman Assalam
Hafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun. Usia 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai pesertaPertamina Youth Programme 2007.
2. Faris Jihady Hanifa
Hafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Usia 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariat LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.
3. Maryam Qonitat
Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun. Usia 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.
4. Scientia Afifah Taibah
Hafal 29 juz sejak SMA. Usia 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.
5. Ahmad Rasikh ‘Ilmi
Hafal 15 juz Al-Qur’an, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.
6. Ismail Ghulam Halim
Hafal 13 juz Al-Qur’an, dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.
7. Yusuf Zaim Hakim
Hafal 9 juz Al-Qur’an dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.
8. Muhammad Syaihul Basyir
Hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD. Kelas I MTs Darul Qur’an, Bogor.
9. Hadi Sabila Rosyad
SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an. Diantara prestasinya dalah juara I lomba membaca puisi.
10. Himmaty Muyassarah
SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an.
11.Hasna wafat usia 3 tahun, bulan Juli 2OO6
Tentu saja ini adalah prestasi yang perlu kita jadikan teladan, bahkan bagi para da’i sekalipun keberhasilan Keluarga Mutammimul Ula perlu dicontoh. Dengan berbagai macam kesibukan baik sebagai seorang wakil rakyat dan da’i Mutammimul Ula mampu membagi waktunya dengan baik untuk mendampingi perkembangan anak-anaknya, apalagi mereka berdua melakukan semuanya sendiri, tanpa pembantu rumah tangga.
1. Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun.
2. Doktrin keluarga = Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat
3. Jangan terlalu mengandalkan sekolah
4. dua per tiga keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah
5. Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu
6. Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri.( berarti tanggung jawab orang tua sangat besar pada anak )
7. Suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu.
8. Imam Syafi’i ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun. Namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu. ( betapa penting peran visioner seorang ayah )
9. Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah
10. Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 1O tahun
11. Ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikannya
12. Perhatian dari A sd Z, potong kuku, bersihkan telinga dll
13. File file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan dll
14. Kekayaan kami adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak anak ke toko buku.ada 4000 buku di rumah
15. Visi yang ada di kepala kami adalah anak anak kami semuanya harus menjadi hafidz quran
16. Keliling Jawa dan Madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di Kudus. Orang mencibir untuk apa menjadi hafidz Quran dan menitipkan anak di pesantren.
17. Tujuh tahun pernikahan tanpa televisi
18. Setiap hari diperdengarkan murottal
19. Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati
1. Menjelang tidur selalu diceritakan kisah kisah para nabi dan rasul
2. Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al quran bagi 11 anak kami
3. Bakda maghrib dan Bakda subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur an.
4. Selalu menyemangati anak “Nak ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari”.
5. Anak pertama dan kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum subuh dan diajak sholat berjamaah, di Komplek perumahan DPR-RI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat subuh berjamaah
7. Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat kami all out keluar rumah, keluarga besar kamilah, yang terlibat mengawasi anak anak
8. Kami rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka
9. Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol
10. Memagari anak anak dari pengaruh negatif. Ada agreement dengan anak anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar
11. Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu
12. Syukur kami tiada henti padamu ya Robbi atas karunia anak anak kami
Wirianingsih, Berbagi Pengalaman menjadi Ibu dari 10 anak Penghafal Al-Qur’an
Terkadang saya suka bertanya sendiri, apa hal yang paling membuat saya bahagia dalam hidup ini? Ternyata jawabannya adalah sesaat setelah saya melahirkan.”
Menjadi ibu dari sepuluh anak bukanlah bagian hidup yang saya rencanakan. Meski hal tersebut pernah diutarakan oleh suami, tapi saya hanya menjalani, dan ternyata benar Allah menghendaki saya memiliki sepuluh buah hati tersebut.
Seperti para ibu lainnya, tentulah masa ketika anak-anak masih kecil sangat merepotkan. Terlebih saya tidak mempunyai pembantu, sehingga sebelum tidur saya harus sudah menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak, kemudian disimpan di kulkas. Sebelum subuh saya sudah bangun, menyusui anak dulu, lalu setelah itu langsung ke dapur dan mulai memasak. Kalau si kecil bangun, saya terpaksa harus masak sambil menggendong bayi.
Kerepotan tersebut semakin terasa ketika anak-anak sudah banyak dan hampir semua sekolah. Saya menyiapkan anak-anak sebelum berangkat ke sekolah dengan keterbatasan yang ada, tapi saya selalu berusaha untuk tidak mengeluh. Dan hal tersebut juga saya wariskan pada anak-anak agar tidak mengeluh. Jalani saja! Alhamdulillah, anak-anak bisa mengerti kondisi, mereka tidak mengeluh sedikitpun walau harus makan seadanya. Padahal, saat itu saya menyiapkan makan siang mereka di subuh hari, dan mereka baru menyantapnya di waktu zuhur. Rasanya pasti sudah tidak seenak masakan baru matang, tapi alhamdulillah mereka bisa menerima.
Dengan segala kondisi yang ada, anak-anak tidak ada yang mengeluh, mereka memahami segala keterbatasan yang dimiliki oleh orangtua mereka. Dan menurut saya, itulah pentingnya berbagi perasaan kepada anak, sehingga anak pun bisa paham dengan kondisi yang ada.
Setelah anak yang paling besar berangkat sekolah, pekerjaan pun masih belum selesai. Saya masih harus mengurus dan menyuapi anak-anak yang masih kecil. Semua itu saya jalani sekitar tujuh tahun lamanya.
Keluhan-keluhan pribadi pastilah ada. Namun keluhan tersebut nyatanya bukan karena saya capek mengurusi mereka, melainkan karena banyak sekali akhirnya yang tertunda ketika anak-anak sakit. Setiap bulan dari kesepuluh anak saya, ada saja yang sakit: masuk rumah sakit, diopname, bahkan pernah juga dalam satu bulan ada dua anak yang sakit sekaligus.
Alhamdulillah, kerepotan tersebut bisa saya lewati dengan baik. Semua bisa saya jalani berkat dukungan keluarga, baik keluarga saya maupun keluarga suami. Mereka selalu memberikan kontribusi baik moril maupun materiil. Yang membuat saya dan suami bisa sabar menjalani semuanya.
Memang sangat repot memiliki banyak anak, namun kerepotan tersebut akan hilang seketika dengan apa yang selalu saya rasakan jika melihat mereka. Jika malam hari anak-anak sedang ngumpul, saya suka merenung sendiri, apa sih hal yang membuat saya merasa bahagia di dunia ini? Ternyata jawabannya adalah ketika saya selesai melahirkan. Ya, setelah saya selesai melalui perjuangan melahirkan, dan melihat anak saya menangis, adalah hal yang amat membahagiakan. Saya kira perasaan ini hanya muncul pada anak pertama, tapi ternyata hal itu terjadi juga pada anak kedua, ketiga, bahkan anak kesepuluh. Saat itu saya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Pengalaman Pertama Menjadi Ibu
Pada 1985 saya mengalami hamil yang pertama. Saya baru saya saat saya sedang mengisi acara training di Sumatera Selatan. Saya sendirian, mebawa koper, berangkat sendiri, dan di saat itulah saya sadar kalau ternyata saya sudah telat 2 minggu. Saya periksa ke dokter. Dan begitu saya tahu bahwa Allah mengizinkan saya hamil, saya langsung memiliki banyak cita-cita. Saya mengajak ngobrol jabang bayi saya setiap hari. Saya utarakan mimpi-mimpi indah saya kepadanya.
Harapan pertama pada jabang bayi pertama saya saat itu adalah dia harus jago matematika. Saat itu sama sekali tidak kepikiran dia harus hafal Al-Quran. Justru saat itu saya ingin anak saya harus jago matematika. Kenapa? Sebab saya ingat sekali waktu kelas 3 SD, saya diomeli oleh guru saya gara-gara tidak bisa mengerjakan soal matematika. Jadi, ketika saya hamil saya langsung punya cita-cita anak ini harus jago matematika. Dan apa bukti dia jago matematika? Buktinya adalah ketika kelak dia melanjutkan kuliahnya, dia harus masuk ITB. Belum lahir saja saya sudah punya obsesi anak saya harus masuk ITB. Dan alhamdulillah tercapai, anak pertama saya, Aaf, memang paling bagus matematikanya dibandingkan yang lain.
Ketika dia memilih perguruan tinggi, saya sempat bernazar, “Kalau anak ini benar bisa masuk ITB, saya mau ajak dia umrah.” Akhirnya saya pun menabung untuk dia. Saya bertahajud setiap malam. Dan ketika ujian masuk perguruan tinggi berlangsung, saya tidak henti-hentinya berdoa. Alhamdulillah, cita-cita pertama saya itu tercapai. Saat ini anak pertama saya sedang menyelesaikan tugas akhirnya di ITB.
Cita-cita kedua saya, yaitu anak ini harus menjadi Al-Quran berjalan.
Keberhasilan itu bukan tercapainya tujuan tapi pada proses yaitu Komitmen dan konsistensi kita menjalaninya. Kepada Allah kembali segala urusan
sumber: mbah gugel
(http://google.co.id)
sekedar sharing…
siapa tahu dapat menjadi inspirasi kita dalam kehidupan berumah tangga

Mengubah Universitas Kelas ”Teri” Jadi Berkualitas

 
Prof Dr Imam Suprayogo, arsitek kebangkitan UIN Malang . .

Gemas dengan keadaan IAIN, seorang mahasiswa membulatkan tekad di dalam hatinya, “Kelak jika diberi amanah memimpin kampus ini, aku akan membuat perubahan.”
Puluhan tahun kemudian, si mahasiswa itu terbukti sukses mewujudkan tekadnya. Siapa mahasiswa itu? Dialah Imam Suprayogo (59), Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang, Jawa Timur.
Sepuluh tahun lalu, ketika namanya masih Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang, perguruan tinggi itu tak ubahnya seperti SD Inpres. Ia hanya dilirik sebelah mata oleh berbagai kalangan.
Namun, kini perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama (Kemenag) itu telah berubah seratus delapan puluh derajat. Gedung yang dimiliki kampus yang terletak di Jalan Gajayana itu tidak kalah mentereng dengan kampus negeri sebelahnya, yaitu Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang yang jauh lebih tua.
Yang menarik dari kampus itu bukan saja gedungnya, tapi juga tradisi keilmuan yang dibangun. Ini bisa dilihat dari ciri khususnya, yakni seluruh mahasiswanya harus menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. Oleh karena itu, jangan heran jika skripsi mahasiswanya pun ditulis menggunakan dua bahasa tersebut.
Selain itu, yang khas dari kegiatan di kampus adalah tradisi shalat berjamaah dan shalat Tahajud. Bukan cuma itu, bahkan 1.232 mahasiswanya adalah tahfizh Qur`an. Itu artinya, lebih dari 10 persen dari jumlah total 7.500 mahasiswa.
Keberhasilan itu tidak lepas dari kepiawaian Imam Suprayogo yang menahkodai kampus tersebut. Sang Rektor inilah yang mengantarkan kampus itu menjadi Perguruan Tinggi Islam (PTI) yang patut diperhitungkan.
Pak Imam, demikian dia biasa dipanggil, dalam membangun UIN Malang yang pada tahun 2002 pernah bernama Universitas Islam Indonesia-Sudan (UIIS) itu mengembangkan konsep pendidikan yang merupakan sintesis antara tradisi universitas dan pesantren atau ma’had.
Ma’had itulah, menurut Imam, salah satu program unggulan UIN Malang. Melalui wadah ini terbukti mampu meningkatkan kualitas mahasiswanya.
Pada tahun pertama, seluruh mahasiswa diwajibkan tinggal di ma’had untuk memperdalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. “Melalui bahasa Arab, diharapkan mahasiswa mampu mengkaji Islam melalui sumber aslinya yaitu al-Qur`an dan Hadits. Sedang melalui bahasa Inggris mereka diharapkan mampu mengkaji ilmu-ilmu umum dan modern, selain sebagai piranti komunikasi global,” jelas Imam yang sudah menjabat rektor selama 14 tahun.
Tak mudah merealisasikan program ma’had tersebut. Disamping mesti membangun asrama yang mampu menampung 3.000 mahasiswa, doktor lulusan Universitas Airlangga Surabaya itu mesti menjinakkan atasan dan anak buahnya yang menentang idenya tersebut.
Namun layar sudah telanjur dibentangkan, pantang ditarik kembali. Kira-kira begitulah prinsip rektor yang rajin menulis di website itu. “Apa pun dan bagaimanapun program tersebut harus berjalan,” tegas Imam yang mendapat julukan ‘rektor gratis’ karena tak pernah mengambil tunjangannya sebagai Rektor UIN Malang.
Menurut Imam, dari 53 PTI Negeri di Indonesia, hanya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mempunyai sistem pendidikan ma’had.
Melalui model pendidikan semacam itu, mantan Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang ini berkeyakinan, dari kampusnya bakal lahir lulusan yang berpredikat ulama yang intelek dan intelek yang ulama.
Terbukti kemudian, UIN Malang kini tengah mengalami kebangkitan. Disamping kerap menjadi kiblat bagi PTI lain melakukan studi banding, kini universitas yang memberi beasiswa kepada para penghafal al-Qur`an itu juga menjadi rujukan mahasiswa luar negeri. Ada puluhan mahasiswa asing yang belajar di sini. Mereka antara lain berasal dari negara-negara tetangga, lalu Rusia, Madagaskar dan Bulgaria.
Ingin lebih tahu jurus-jurus yang digunakan Imam untuk mengangkat univesitas yang dulu menjadi cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, wartawan majalah Suara Hidayatullah, Bambang Subagio, Akbar Muzakki dan Bahrul Ulum beberapa waktu lalu berbincang-bincang dengan sang Rektor.
Berikut hasil wawancaranya.
Dengan adanya ma’had, apa kurikulum UIN Malang berbeda dengan PTI lainnya?
Ya. Kurikulum di sini memang saya buat beda dengan PTI lainnya di Indonesia. Kami tidak mengikuti sepenuhnya kurikulum yang ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama (Kemenag).
Apa tidak ada teguran dari Kementerian Agama?
Ada. Ketika baru mengubah kurikulum, saya diingatkan oleh Pak Dirjen. Tapi saya bilang ke beliau bahwa saat saya dilantik menjadi Ketua STAIN tahun 1998, Pak Menteri Agama berpesan agar ada usaha-usaha peningkatan kualiatas di kampus ini. Itulah yang saya pegang dan saya sampaikan ke Pak Dirjen. Saya juga bilang terus terang kepada beliau bahwa kalau saya mengikuti kurikulum yang dibuat Kemenag, nyatanya tidak ada yang berkualitas. Karena itu, cara untuk meningkatkan kualitas kampus ini, saya harus membuat kurikulum sendiri.
Bagaimana reaksi Dirjen?
Waktu itu Pak Dirjen mengatakan, kalau saya (Imam) membikin kurikulum sendiri berarti tidak sama dengan PTI lainnya dan tidak bisa diikuti oleh perguruan tinggi swasta. Saya jawab bahwa saya tidak memikirkan PTI lainnya dan tidak ada perintah untuk memikirkan mereka. Tugas saya adalah meningkatkan kualitas di sini.
Kemudian saya balik bertanya kepada Pak Dirjen, bahwa kalau saya harus meningkatkan kualitas dengan cara mengikuti kurikulum yang dibuat pemerintah, adakah perguruan tinggi agama yang (memakai kurikulum pemerintah) kualitasnya unggul. Kalau ada, akan saya tiru. Waktu itu Pak Dirjen tidak bisa menjawab. Maka saya katakan kepada beliau, tidak akan pernah ada.
Mendengar pernyataan saya, beliau agak jengkel dan bilang, “Wah, saya akan repot jika memiliki banyak rektor seperti Pak Imam.”
Langkah pertama yang Anda lakukan untuk meningkatkan kualitas, seperti apa?
Saya membuat program ma’had yang mewajibkan mahasiswa belajar bahasa Arab dan Inggris. Saya berkeyakinan, bahasa adalah alat untuk mengkaji ilmu. Misalnya mengkaji ilmu agama, bagaimana mungkin orang bisa memahami al-Qur`an tanpa menggunakan bahasa Arab. Ini jelas tidak mungkin. Alat itu penting digunakan untuk mencapai sesuatu. Untuk mendapatkan apa saja harus menggunakan alat. Menangkap ikan saja harus menggunakan kail atau jala. Sebab, jika memakai tangan kosong yang didapat adalah ikan mabuk atau mati yang rasanya tidak enak. Posisi bahasa seperti kail atau jala. Untuk memahami al-Qur`an, ya, harus menguasai alatnya dulu yaitu bahasa Arab.
Apakah program itu berjalan baik?
Alhamdulillah, berjalan sesuai rencana. Setelah dua tahun, semua mahasiswa sudah bisa berbicara dan membaca tulisan Arab. Jadi ada gairah baru di sini. Karena itu, ketika Pak Dirjen ke sini dan melihat hasilnya, beliau malah menghimbau PTI lainnya meniru UIN Malang. Dan memang banyak PTI yang ke sini untuk studi banding.
Bagaimana respon dosen dan mahasiswa?
Awalnya memang ada yang menolak. Namun, saya telah memberikan penjelasan yang rasional. Tapi saya akui, dalam melakukan pembaharuan saya memang otoriter.
Bahwa ada yang menentang, mereka saya hadapi. Alhamdulillah, semua bisa menerima dan mengakui manfaatnya.
(Seorang dosen bercerita, demi terlaksananya program ma’had, Pak Imam benar-benar bersikap tegas. “Siapa saja yang menentang program tersebut dia tempatkan sebagai musuh besar kampus,” kata dosen tersebut.
Salah satu kendala ma’had adalah tenaga pengajar bahasa Arab. Disamping dibutuhkan waktu pagi hingga malam, honornya juga kecil. Lantaran hal itu, tak sedikit dosen yang menolak mengajar di ma’had, termasuk si dosen tadi.
Dia berkisah, suatu kali dia disodori formulir kesanggupan mengajar di ma’had. Karena punya kesibukan di luar, dia menyatakan belum sanggup. Begitu Imam tahu, dia langsung dipanggil dan disemprot habis-habisan. “Bagaimana mungkin Anda menolak mengajar bahasa Arab (di ma’had), sementara Anda dosen bahasa Arab? Jika Anda seperti itu, berarti Anda musuh besar kampus ini,” kata dosen tadi menirukan amarah bosnya.
Disemprot seperti itu si dosen hanya diam membeku. “Keringat dingin mengucur dari badan saya,” katanya mengaku.
Kini, si dosen mengakui keunggulan program ma’had tersebut).
Bagaimana dengan mahasiswa baru?
Setiap penerimaan mahasisiwa baru saya jelaskan bahwa bangunan keilmuan di sini menekankan pada tarbiyah fi ulul albab. Yaitu mendidik manusia yang banyak berzikir dan berpikir. Itulah manusia yang disebut ulama yang intelek atau intelek yang ulama. Yaitu orang yang mempunyai kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Penguasan ilmu alam, sosial dan humaniora harus mendasarkan pada ayat-ayat kauliyah dan kauniyah. Karena itu, seorang yang memiliki jiwa ulul albab, jika menemukan persoalan dalam ilmunya, akan mengembalikan kepada al-Qur`an dan Sunnah.
Nah, untuk mencapai hal ini diperlukan penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Karena itu, saya mengajak mereka belajar kedua bahasa itu dengan baik. Caranya, mereka harus masuk ma’had. Di tempat inilah mereka akan belajar kedua bahasa itu setiap hari. Dengan penjelasan ini mereka sudah siap.
Berarti ada tambahan SKS?
Itu juga pernah ditanyakan oleh mahasiswa baru. Saya bilang kepada mereka bahwa saya sudah tidak mengerti SKS atau semester. Yang saya tahu bahwa kalian tidak bisa bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jadi, kalian harus belajar kedua bahasa itu tiap hari. Jika belajar bahasa hanya seminggu dua atau tiga kali dan itu masing-masing hanya dua jam, maka tidak mungkin bisa. Penjelasan seperti ini juga saya sampaikan kepada orang tua mahasiswa. Bahkan mereka setuju. Jadi, sejak awal tidak ada resistensi dari mahasiswa atau wali mahasiswa.
Selain itu, saya juga jelaskan bahwa di sini juga menekankan spiritualitas. Karena itu, saya mengajak mereka untuk banyak berzikir, shalat berjamaah, shalat malam dan puasa Senin-Kamis.
Ini berlaku untuk semua mahasiswa?
Ya. Termasuk mahasisiwa non-Islam. Di sini ada mahasiswa Kristen. Dia datang ke saya dan saya jelaskan bahwa dia harus mengikuti bahasa Arab dan mengaji al-Qur`an. Saya katakan kepadanya bahwa sumber ilmu di UIN Malang adalah al-Qur`an, karena itu dia harus belajar al-Qur`an. Dan dia juga harus masuk ma’had. Cuma dia tidak wajib shalat karena itu hanya diwajibkan untuk orang Islam. Alhamdulillah, tiga bulan setelah itu dia masuk Islam.
Ada tidak yang menilai negatif dengan program ini?
Banyak. Awalnya saya dicaci maki karena membuat ma’had. Menurut mereka, ma’had bukan otoritas kampus. Bahkan terakhir ada yang mengusulkan agar mengubah menjadi asrama mahasiswa saja. Tapi setelah mereka melihat hasilnya, tidak ada lagi penilaian seperti itu.
Terbukti mahasiswa yang unggul di sini adalah mereka yang penguasaan agamanya bagus. Contohnya, wisudawan terbaik angkatan pertama adalah mahasiswa jurusan Fisika yang hafal al-Qur`an 30 juz. Angkatan kedua mahasiswa Matematika hafal 30 juz. Dan terakhir juga anak Fisika yang hafal al-Qur`an dan skripsinya berbahasa Arab.
Berarti Anda mengembalikan IAIN yang sekarang sudah berubah menjadi lembaga keilmuan semata?
Ya. Saya ingin mengembalikan PTI sebagaimana ide awalnya yaitu sebagai lembaga ilmu, dakwah dan pendidikan Islam yang berkualitas. Karena itu, saya perlu membuat sebuah konsep yang bisa menerjemahkannya. Saya sengaja membuat ma’had demi mencapai tujuan tersebut. Inilah cara memperbaiki pola pendidikan di Perguruan Tinggi Islam yang sekarang ini banyak mendapat sorotan masyarakat. Saya menjadikan ma’had sebagai bagian dari arkanul jamiah (rukun universitas).
Maksudnya?
Menurut saya, rukun universitas itu antara lain pertama, harus memiliki dosen. Kedua, harus ada masjid. Ketiga, harus ada ma’had. Selanjutnya ada perpustakaan, laboratorium, tempat pertemuan, pusat pengembangan seni dan olahraga, dan terakhir sumber pendanaan yang kuat. Dari rukun tersebut yang penting adalah tiga yang pertama. Tiga hal ini tidak boleh hilang dari perguruan tinggi Islam. Bahkan itu wajib. Kalau tiga hal itu tidak ada dalam PTI, maka perguruan tinggi tersebut tidak akan melahirkan sarjana yang berkualitas.
Kembali kepada ketentuan dari Kemenag soal PTI, berarti konsep Anda ini menyalahi aturan?
Memang menyalahi. Tapi saya berusaha meraih yang terbaik demi meningkatkan kualitas mahasiswa. Untuk mencapai hal itu saya sebagai rektor lebih tahu. Makanya saya tidak pernah meminta petunjuk dari pusat. Saya lebih tahu mana yang terbaik bagi mahasiswa dan kampus ini.
Anda tidak takut diberi sanksi?
Demi kebaikan, kenapa harus takut. Saya hanya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seandainya saya diberi sanksi, paling tinggi dipecat jadi rektor. Bagi saya tidak ada masalah. Saya masih bisa jadi guru besar. Seandainya saya juga dipecat jadi guru besar, saya masih punya SIM B untuk menjadi sopir. Ha..ha…ha. Saya tidak takut dengan risiko yang saya ambil. Semua itu demi kebaikan kampus ini.
Apa resep Anda hingga bisa mengembangkan kampus ini sedemikian rupa?
Saya mulai dari diri sendiri. Saya harus memberi contoh terlebih dahulu. Seorang pemimpin, jika dia ingin berhasil, harus memberikan contoh. Tanpa itu tak mungkin berhasil. Misalkan tunjangan saya selama menjadi rektor tidak pernah saya ambil. Semuanya saya hibahkan ke kampus untuk membangun kampus ini. Sebab, menurut saya, amanah sebagai rektor adalah sebuah perjuangan. Dan berjuang itu harus berkorban. Kalau berjuang tanpa berkorban, apalagi malah untung, itu namanya makelar. Dan saya juga tidak ingin menjadi makelar.
Dengan cara seperti itu, maka seluruh dosen serta orang tua paham bahwa saya benar-benar bekerja untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk diri sendiri. Prinsip ini yang saya pegang teguh.
Suatu kali Imam ingin memindahkan seorang pensiunan dosen dari rumah dinas, karena ada dosen lain yang membutuhkan. Ini masalah sensitif dan di banyak tempat, masalah ini kerap menimbulkan gejolak. Tapi Imam punya cara jitu, tanpa menimbulkan riak-riak.
Dia datangi rumah pensiunan itu, lalu dia tawarkan rumah baru seharga Rp 40 juta. Pensiunan itu menerima, walau awalnya sempat bingung karena tak pernah berpikir rektor membelikan rumah untuk dirinya. “Rumah itu saya beli dari uang saya pribadi, sebab bila memakai uang dinas nanti banyak orang iri ingin dibelikan semua,” kata Imam.
Imam juga tak segan-segan melego mobil pribadinya untuk membangun universitas yang dia cintai sepenuh jiwanya itu.
Kabarnya Anda memberi beasiswa kepada para penghafal al-Qur`an, bagaimana ceritanya?
Dulu saya termasuk orang yang tidak simpati kepada para penghafal al-Qur`an. Sudah ada CD, kaset, DVD dan sebagainya, lalu untuk apa menghafalkan al-Qur`an?
Tetapi setelah saya amati, pikiran saya salah. Anak-anak yang hafal al-Qur`an itu ternyata lebih cerdas dan akhlaknya juga baik. Pakaiannya sopan, hormat kepada orang tua dan guru.
Sebagai bentuk istighfar saya, saya lalu memberi beasiswa kepada mahasiswa yang hafal minimal 10 juz.
Tiada Henti Membangun Masjid
Setiap orang tua tentu bangga melihat anaknya mampu membeli sepeda motor dari keringatnya sendiri. Tetapi tidak dengan Kiai Hasan Muchrodji. Berhari-hari Kiai Hasan, demikian biasa dipanggil, tak bisa tidur karena pikirannya terus gelisah. Penyebabnya sederhana, dia mendengar kabar Imam Suprayogo membeli motor baru. Dia khawatir uang yang dipakai membeli motor itu hasil dari korupsi, karena dia tahu gaji pegawai negeri kala itu masih kecil.
Demi memastikan kabar itu, kiai yang tinggal di Trenggalek ini malam-malam memaksakan diri datang ke rumahnya Imam di Malang. “Setelah saya jelaskan bahwa motor itu dibeli secara kredit, baru beliau lega dan paginya langsung minta pulang,” kata Imam mengisahkan. Inilah salah satu peristiwa yang hingga kini melekat kuat di benak Imam.
Lahir di Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Imam (karena berasal dari keluarga kiai) sejak kecil sudah dididik dengan nilai-nilai Islam. Ayahnya, kata Imam, sebagai kepala keluarga selalu memastikan bahwa seluruh makanan dan barang milik anak-anaknya diperoleh dengan cara halal. “Setiap saya mendapat mainan baru atau makanan, ayah selalu tanya dari mana dapatnya,” kata Imam, anak kedelapan dari 16 bersaudara.
Bila ada orang yang paling berpengaruh terhadap dirinya sehingga dia bisa menjadi seperti sekarang, tanpa ragu Imam menjawab: Ayah! Banyak nasihat ayahnya yang hingga kini masih menancap kuat di benak bapak tiga anak ini. Di antara nasihat yang masih dipegang erat-erat oleh Imam hingga sakarang adalah:
“Jika kelak kamu menjadi orang kaya, bangunlah sebuah masjid. Syukur kalau masjid itu berukuran besar dan bagus. Jika tidak mampu membangun masjid yang besar, bangunlah masjid kecil atau mushalla. Tapi, jika kamu masih tetap belum mampu juga, bantulah orang yang membangun masjid sekuat kemampuanmu. Bila dengan sedikit uang saja kamu masih belum mampu, ya bantulah dengan tenaga maupun pikiran. Terakhir, jika kamu terlalu miskin dan lemah, sehingga tidak bisa melakukan apa-apa, saya tidak kecewa asalkan dengan satu syarat: kamu masih jadi isinya masjid.”
Karena nasihat itulah, suami dari Sumarti ini mengaku menjadi panita pembangunan masjid sepanjang hayatnya. Selesai membantu pembangunan masjid yang satu, pindah ke masjid lain. Demikian seterusnya.
Sekalipun begitu, Imam menikmati peran mulia itu. “Sebab, pada dasarnya memang saya suka memberi,” kata Imam.
Tiada Henti Menulis
Dengan bangga Imam Suprayogo menunjukkan buku setebal 10 sentimeter. Buku itu berisi kumpulan artikel yang dia tulis di website pribadinya. Artikel itu dia tulis selama setahun tiada jeda.
Imam patut diberi acungan jempol. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai Rektor, dia masih bisa meluangkan waktu menulis setiap hari. Ya, tiap hari dia menulis minimal satu artikel.
Karena konsistensinya itu, tahun lalu namanya pernah tercatat di MURI sebagai orang terlama menulis di wibsite. “Beliau menulis selama satu tahun terus menerus tiap hari,” kata Yahya, Humas UIN Malang.
Sekarang tentu lebih dari satu tahun Imam menulis. Berdasarkan arsip artikel di wibsitenya, Imam menulis mulai akhir 2008. Sejak itulah ia mampu menjaga stamina menulisnya. Jumlah total hingga tulisan ini ditulis ada 1.070 artikel.
Ihwal menulisnya itu, pria ramah ini bercerita bahwa pada dasarnya dia termasuk pribadi yang suka memberi. “Karena saya tak punya harta, ya saya memberi tulisan saja,” katanya. Tentu saja harapannya ide-ide yang disampaikan lewat tulisan tersebut bermanfaat bagi orang lain. “Tetapi kalau toh tidak bermanfaat tidak apa-apa, pokoknya saya menulis,” katanya lugas.
Alasan kedua, masih kata Imam, mengisi waktu kosong pagi. Setelah shalat Subuh di masjid, dia biasanya meneruskan dengan membaca al-Qur`an di rumah. Selesai mengaji tidak ada yang dikerjakan. “Nah, daripada nganggur, saya menulis,” katanya.
Bahkan tak hanya saat di rumah dia menulis. Imam menulis di mana saja, termasuk kala dinas ke luar kota. “Di mana saja, sepanjang masih ada subuh, saya menulis,” katanya.
Beragam tema yang dia tulis, mulai dari politik, sosial, agama dan budaya. Bahkan juga ada pengalaman-pengalaman pribadinya, baik sebagai rektor, anak, dan anggota masyarakat.
Imam tak ingin dirinya saja yang mampu menulis. Semangat menulisnya itu juga dia tularkan kepada seluruh dosen dan karyawan di UIN Malang. Bahkan dia menantang mereka, siapa paling produktif menulis diberi hadiah mobil baru.
Tantangan rektor itu terbukti berhasil membangkitkan semangat menulis para dosen. Itu bisa dilihat dari jumlah buku yang diterbitkan. Selama tahun 2010 tak kurang dari 283 judul buku diterbitkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jumlah itu mengalami kenaikan hampir 50 persen dari penerbitan tahun sebelumnya. Tahun 2009, UIN Malang menerbitkan 202 judul buku.
Imam tidak omong kosong. Tahun lalu, mobil itu disabet oleh HR Taufiqurrochman, dosen bahasa Arab yang terbukti paling produktif.
Imam bangga lembaga yang dipimpinnya mampu menerbitkan ratusan buku tiap tahun. “Coba cari perguruan tinggi mana tiap tahun menerbitkan buku hingga ratusan judul,” kata Imam penuh syukur. (Sumber:* SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2011)